PANGANDARAN JAWA BARAT — Di tengah derasnya dinamika politik dan sosial, Fredy & Partners Praktisi Hukum Sekaligus Pengamat kebijakan Publik menegaskan sebuah garis tegas yang kerap kabur di ruang publik: selalu mencari-cari kesalahan dan kelemahan bukanlah kritik.
Menurut Fredy, Praktisi Hukum Sekaligus Pengamat kebijakan Publik, kritik adalah sejatinya selalu dibangun di atas niat memperbaiki, argumentasi yang solid, dan etik yang jelas.
Kritik hadir untuk menguatkan kualitas kebijakan maupun tindakan publik, bukan memperuncing perpecahan.
Maka hal ini perlu kiranya ditekankan bahwa saat ini diperlukan kedewasaan kolektif dalam bersuara. Publik harus mampu membedakan kritik dari sekadar kebiasaan mencari kekurangan dan kelemahan Karena bila keduanya disamakan, maka kebenaran akan kabur, dan percakapan publik akan dipenuhi kabut narasi yang menyesatkan.
“Jangan samakan kritik dengan serangan personal, ” ujar Fredy.
“Kritik adalah upaya membangun, sedangkan selalu Mencari kesalahan dan kelemahan adalah upaya merusak. Keduanya berbeda seperti cahaya dan bayangan.”
Fenomena orang atau kelompok yang menutupi motif politik, sentimen pribadi, atau kepentingan tertentu dengan label “kritik” semakin sering muncul. Padahal sebagian besar tidak lebih dari upaya menggiring opini dengan memelintir fakta atau memperbesar kekurangan kecil untuk menciptakan persepsi buruk.
Fredy & Partners menyebut praktik tersebut sebagai kebisingan yang mengaburkan kebenaran, bukan kontribusi terhadap demokrasi.
“Demokrasi memerlukan kritik, ” lanjut Fredy. “Tetapi demokrasi juga membutuhkan kedewasaan dalam membedakan mana kritik, mana manipulasi yang dibungkus kritik.”
Dalam hal ini menjadi seruan penting bagi seluruh elemen masyarakat dan media untuk tidak terjebak pada narasi-narasi destruktif yang menyesatkan. Kritik harus tetap dijaga sebagai energi perubahan, bukan alat untuk menjatuhkan atau mengoyak integritas pihak tertentu.
Kritik membangun masa depan.
Mencari-cari kesalahan merusak kepercayaan.
Fredy & Partners menegaskan komitmennya untuk terus mendorong dialog publik yang sehat, jernih, dan berbasis pada kebenaran. Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali menempatkan kritik pada tempatnya: Sebagai energi perubahan, bukan alat untuk memecah belah. Karena yang membangun itu kritik, sedangkan yang mengacaukan itu adalah tindakan kesengajaan yang selalu mencari - cari kelemahan dan kekekurangan semata. (FK)

Anton